Showing posts with label sad. Show all posts
Showing posts with label sad. Show all posts

14 Jan 2013

Hari ke-14: Ayah

Sedang meneduh. Menghindari hujan. Sudah tidak sekuat dulu. Duduk diatas tumpukan sepatu, ia terkantuk-kantuk menahan kelelahan. Seiring riuh hujan dan anak-anak yang lalu lalang, kepalanya tertunduk-tunduk; matanya memejam. "Aku lelah", bisik matanya. Disela kantuk dan sadarnya, dia menjajakan dagangannya dengan suara lirih bercampur kelelahan, "Tahunya... Tahunya..."

Yang menguatkannya untuk terus berjalan;
hanyalah putra yang sangat dicintainya.
Tanpa berpikir bagaimana lelahnya dia.

Ayah, dengarkanlah....
Disela hujan ini, aku mengirim tetes kerinduan.
Untukmu yang selalu berpeluh.
Untukmu yang tidak pernah berkata lelah.
Untukmu yang selalu tersenyum.
Untukmu yang selalu berkata, "Semangatlah."
Untukmu yang tidak pernah mengeluh.
Untukmu, Ayah nomer satu didunia.
Aku rindu. Aku rindu. Aku rindu.

Hari ke-13: Menunggu

Rena berdiri disana. Bersama angin dan suara hempasan ombak. Bersama badai yang akan datang. Bersama kerinduan yang menyayat. Bersama kesepian yang memeluk erat. Bersama ribuan kenangan yang berusaha terbang menantang angin kencang. Di dermaga. Menikmati alam membisikinya untuk tinggal. Merenungi sebuah kepergian. Menanti sang pangeran yang tidak akan pulang. Yang sudah bertahun menjelajahi lautan. Yang tidak bisa lagi memberi kabar. Yang kata orang-orang sudah kembali pulang. Ke dalam pelukan lautan. Ke dalam naungan Tuhan.

Dia selalu menunggu.
Untuk bisa kembali bersatu.

9 Jan 2013

Hari ke-9: Mencintai Dalam Diam

"Salut deh sama kalian!!!"

"Salut kenapa?"

"Ya kalian berdua sahabatan udah berapa taun coba, dan ga pernah ada apa-apa kan?! Murni sahabat! Kalo aku sih mungkin udah suka kali Gin sama sahabat cowok yang super baik kaya Rama. Semacem ga mau nyia-nyiain oase di gurun gitu, hahaha."

"Oh, itu", aku cuma tersenyum.

Rena adalah orang keseribu yang selalu memuji kita. Memuji aku, mungkin. Atau sebenarnya iri ingin ada diposisiku. Rama adalah sahabatku semenjak SMA. Dan aku bohong kalau aku tidak punya rasa yang lebih untuknya. Iya. Aku menyimpannya serapat udara. Aku menyimpannya. Apa yang orang namakan cinta.

Aku mencintaimu dalam diam. Tidak perlu berbalas. Tidak perlu harus bilang.
Aku mencintaimu dalam diam. Kalau suatu saat kamu paham, maka aku masih disana.
Tidak akan berubah. Sesakit apapun. Aku terus bertahan.
Aku mencintaimu dalam diam. Memendam.
Aku mencintaimu dalam diam. Tidak cukup berani mengungkapkan.
Aku mencintaimu dalam diam. Tidak berharap kau memandang.
Aku bahkan cukup bisa mencintai punggungmu saat kau tersenyum disana tanpa aku.
Aku mencintaimu dalam diam. Bersama bayangan yang tidak dapat kukejar.
Aku mencintaimu dalam diam. Sediam alam. Yang tidak akan pernah meminta.
Aku mencintaimu dalam diam. Dalam tetesan-tetesan kerinduan.
Dalam rapalan-rapalan doa yang selalu kukirimkan.
Dalam ribuan tawa yang selalu kau lontarkan.
Dalam setiap detik mata kita bertatapan.
Dalam setiap rongga dada yang mengembang.

Aku hanya ingin diam. Mencintaimu dalam kesunyian...

6 Jan 2013

Hari ke-6: Ibuk

Ada semburat sedih menggantung disana. Diantara horison biru bola matanya yang gemerlapan percik-percik cinta. Kamu tidak akan pernah tau bagaimana dahsyatnya rindu bisa sangat membuat dua bola cakrawala itu kelabu. Bak tertimbun abu.

Ada sendu tidak ingin diacuhkan disana. Diantara tarian indah jemari lentiknya yang menari meliuki puluhan nada. Bermelodikan ketegaran yang ingin dimengerti tanpa harus berucap: aku merindui.

Ada berton-ton cinta yang siap menenggelamkanmu dijurang paling dalam hatinya, andai kau cukup kuat mengangkatnya sekarang. Dan andai kau cukup tau untuk sekedar paham. Ada yang mencinta, tapi kau buta.

Ada yang setia duduk disana. Menunggumu pulang, atau hanya sekedar mendengar kau berdeham. Lalu dia akan terlelap berhiaskan senyuman. Membawamu ke dalam mimpi seindah cerita impian. Dan terlelap. Sangat lelap. Tanpa harus bertanya dimana, dan kapan terjaga.

Iya buk. Dinar juga kangen.

29 Sept 2012

Kemana saja perginya?

Selama ini aku masih belum-tidak-sadar kalau waktu benar-benar berlalu, berjalan, dan meninggalkan kita. Setelah aku benar-benar membuka mata, aku baru bisa melihat, ternyata kita benar-benar dimakan waktu. Aku sudah sebesar-tua-ini, orang tuaku tidak lagi berambut hitam legam dan segar seperti dulu. Kehidupan yang dulu begini, sekarang sudah jadi begitu. Bisakah sejenak aku memperlambat waktu? Atau kalau aku boleh menjadi sedikit lebih tamak, aku ingin menghentikan waktu. Aku ingin tetap seperti ini saja. Tidak ada yang pergi, tidak ada yang sakit, tidak ada yang bertambah tua, menjadi seperti ini saja, dengan keadaan yang baik. Kalau boleh.... Tapi sayang, itu tidak pernah bisa, tidak pernah mungkin, dan tidak akan boleh. Maka aku berbenah diri, menata diri untuk waktu yang akan datang menempa, untuk segala jalan yang akan segera aku tapak, untuk segala kemungkinan yang tidak pernah terbayang, untuk segala resiko yang harus terambil, untuk siapa? Bukan untuk siapa-siapa, untuk aku, orang tua, keluarga, hidup, dan Yang Menghidupkan.

23 Apr 2012

Brother


Bisakah aku mengulang waktu? Setidaknya menghabiskan waktu lebih lama di masa ini.

14 Apr 2012

Touched?


This is the most touchable moment :"(

26 Jan 2012

Me. Oxygen. Mom

I love you. Today. Tomorrow. Always. And you will be my number one. I miss you. Yesterday. Today. Tomorrow. Even I miss you when we are talking. When I just left home to school. I know my love will never be as big as your love. But, Mom, I love you always ♥♥♥♥♥


Missing mommy. I wish it will be rain again.
Now playing: So Close, So Far (Hoobastank)

31 Dec 2010

Galau?

Masa-masa hampir mencapai tingkat kegalauan yang tinggi. Minggu ini, di awal bulan Januari, di awal pergantian tahun yang biasa saja, aku akan menghadapi sebuah masa yang menegangkan. Yang dulu biasanya aku persiapkan dengan baik, tapi sekarang sepertinya aku sama sekali tanpa persiapan, semuanya serba dadakan. Hati kecil selalu bertanya, "Mau dapat apa nantinya? Mau jadi apa nantinya? Apa kata orang tuamu nantinya?"

Haaahh, kemudian aku bersinar, mulai redup lagi, tapi aku akan berdiri seperti sebuah rumput yang baru saja diinjak, aku pun akan segera bangkit. Semangat Dinar-chan!

11 Dec 2010

Miris

Terulang lagi, masih seperti setahun yang lalu. Kejadiannya juga masih sama, tingkah laku yang sama, statis, nyaris tak berubah. Miris, sangat miris saat memandang nasibnya. Kira-kira setahun yang lalu, aku pernah berniat, berkeras akan berusaha, berikhtiar, tapi setelah aku cari-cari lagi dimana semua niat-niat itu, yang kudapat hanya sisa-sisa rasa lelah mencarinya. Apakah sudah hilang semangatku? Dimana, ada dimana sebenarnya?! Kemudian sekarang, menjadi seseorang yang berdiri sendiri disini. Melihat ke atas, kemudian meredup lagi. Aku butuh semangat, semangat yang sama saat aku berniat setahun yang lalu. Aku ingin bisa kali ini, ingin bisa, ingin bisa!!!