Showing posts with label 'cause you. Show all posts
Showing posts with label 'cause you. Show all posts

23 Oct 2013

Forgive

“Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.” - Tere Liye

28 Sept 2013

Nyanyi sambil curcol

Aku ingin berjalan bersamamu
dalam hujan dan malam gelap...

Aku ingin berdua denganmu
diantara daun gugur...
Aku... ingin berdua denganmu...

Walaupun aku ingin dan kamu tidak terlalu peduli

Aku menunggu dengan sabar
diatas sini melayang-layang
Tergoyang angin, menantikan tubuh itu...

Aku ingin berdua denganmu
diantara daun gugur
Aku... ingin berdua denganmu...

Aku ingin berdua denganmu
diantara daun gugur...
Aku... ingin berdua denganmu...

Kangen. Tidak bisa melihatmu.
Payung Teduh - Resah
1.29 AM / Sept 28, 2013

9 Sept 2013

Penggemar

Hilang sudah satu penggemar setiaku. Yang dulu selalu tahu isi blog-ku dan membaca setiap perasaanku, yang dulu selalu ingin tahu bagaimana hariku berjalan; kini sudah hilang. Mungkin menengok saja tidak sempat, terpikirkan tentang aku saja jarang. Oh beginikah waktu menuakan ingatan? Atau mungkin bisa aku lebih menekankan; beginikah waktu mematikan hati yang dulu berbunga-bunga menjadi keriput tak berwarna...?

Untuk setiap detik waktu yang tidak berhenti bergulir, untuk setiap tawa dan bahagia yang selalu ingin terulang bersama, untuk segala perjalanan yang mendewasakan kita, untuk setiap air mata yang tak henti menetes saat merindui, untuk setiap dekapan yang tidak pernah sampai saat dibutuhkan, untuk setiap keacuhan yang kadang menyakitkan, terima kasih banyak. Kau dan waktu mengajarkanku banyak hal meski tanpa kupinta. Selamat mengulang tahun yang pertama.







Ah, kamu pasti tidak ingat :)

2 Jul 2013

Kucari Kamu


Untuk yang selalu kucari, untuk yang selalu kunanti.
Dari yang selalu mencari, dari yang selalu menunggu
Dalam setiap keraguan yang kadang tak terbatas
Dalam setiap rindu yang berujung luka
Dalam setiap tapak kaki yang tidak ingin berhenti
Dalam setiap detak yang tak pernah berhenti memanggil
...namamu :-)
Dalam setiap hembusan nafas
Dalam setiap bibir yang menyungging senyum
Maupun dalam setiap tangis
...yang tidak butuh alasan untuk menetes :-)

Dulu dan sekarang yang berbeda
Namun...
Semoga sungai kasih tetap mengalir
...deras :-)
Dan tidak pernah kering
Atau tidak pernah surut
Atau tidak pernah berhenti
...mengalirkan kasih-kasih yang dalam
...mengalirkan sejuta harap yang berbalas.


di Juli 2, 2013 / 5.08 PM.
Bersama sepoi angin dan mendungnya langit.
Payung Teduh - Kucari Kamu

17 Mar 2013

Perasaan

"Kalo bisa bohong, aku ingin tidak memerdulikan hatiku yang sedikit demi sedikit terkoyak. Tidak, bukan kamu yang mengoyak. Aku yang mengoyaknya sendiri, kok," wajahnya tersenyum tapi aku tau hatinya sedang terluka dan berdarah begitu hebat. Entah dia sedang tegar atau memang tidak ada pilihan selain tegar. Aku tidak tau dan tidak ingin tau bagaimana perasaannya. Dia mulai menangis, seperti biasanya. Membawa masalah-masalah kecil dalam tangisan yang entah kenapa membuat dadaku sedang dan tak kunjung hujan hatinya reda.

"Bisa ga kamu gausah nangis kalau ada masalah?" tanyaku, tidak tahan.

Dia tiba-tiba terdiam dan tersenyum kearah langit. Senyum yang terluka. Aku melukainya lagi. Orang yang begitu kucintai. Aku yang seharusnya menjadi orang pertama yang dia datangi untuk menjadi penenang, sekarang adalah pengacau nomor satu hatinya. Aku sadar, tapi aku tidak bisa tidak mengulang kesalahan. Baik, aku sekarang sedang memposisikan diriku sebagai orang paling bodoh yang pernah dia kenal.

"Gimana ya rasanya ditinggal pergi orang yang kita sayang? Orang yang udah bertahun-tahun bareng, orang yang selalu ada saat kita sedih, saat kita seneng, orang yang mungkin ga selalu bisa ada saat kita butuh, tapi dia sangat penting buat kita. Ga cukup ditinggal sehari-dua hari, tapi ditinggal pergi, jauuuuuuuh....banget, sampai kita gabisa ketemu lagi," dia tiba-tiba menggumam sendiri. Tapi telingaku menangkap dengan jelas setiap kata yang dia ucapkan. Jelas, sangat jelas. Aku tidak ingin menjawab. Aku tidak ingin membayangkan. Karena aku tidak ingin hal itu ada.

"Mungkin bakalan sakit banget. Mungkin abis dia pergi, kita jadi inget hal-hal buruk apa aja yang pernah kita lakuin ke dia, hal-hal nyenengin yang pernah kita lewatin bareng dia, semua kenangan muncul, dan rasa sakit karena ditinggalkan akan semakin menusuk. Aku udah sering liat orang-orang sekitarku kehilangan, dan dengan melihat mereka saja aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya. Pengen rasanya aku minta sama Tuhan sebuah penangguhan untuk tidak mengambil orang yang aku sayang, karena aku mungkin tidak akan tahan bagaimana sakitnya. Aku tidak ingin kehilangan. Cuma itu. Hehe," kembali dia melanjutkan monolognya dengan udara yang semakin sesak menghimpit dadaku. Sudah cukup. Aku juga tidak mau kehilangan. Cukup bicara hal yang tidak aku suka. Bisa?

"Aku pulang ya, Ram. Maaf ya udah ngerepotin disini. Aku lupa kalau kamu juga punya masalah, bukan cuma aku. Aku aja yang ga pernah mikirin kamu. Baik-baik ya. I love you, Love," katanya tiba-tiba. Aku menahannya, menariknya kearahku, memeluknya. Berharap dia tau kalau dia tidak pernah sekalipun merepotkanku atau menggangguku. Aku yang sering tidak mengertinya.

"Kenapa?" tanyanya.
"Maaf... Buat semuanya. Maafin aku ya,"
"Gapapa, kamu ga salah kok."
"Aku sayang kamu, Ra."
"Iya..."

15 Feb 2013

The Sky is Crying and My Head Full of Noise

Dear friend,

It happens again. I blame myself for something I don't know who has to be blamed. It start when I feel alone and I feel really want someone to talk to but there is no one. I go back to my room and start to read book and get bored and go to the living room to watch TV. But then I get bored because the commercials seem like never stop to be played like three times in a row. Then I sit in front of my laptop and start to browse the new book I want to buy and waiting for the respons. And I better not waiting any longer because I got the mail on the next morning. And I go back to my room and read book again for the second time. And I start to listen some noises on my head and it was really disturb me a lot. And I start to missing you here but you can't be here where I am right now. I kill it with listen to mixtape which titled "The Sky is Crying and My Head  Full of Noise," and I enjoy it so much until I fall asleep like a baby. I dreamed about you, and Stephen, and you again, and then I wake up and still wish you were here to accompany me. Or just laying there playing your favorite game and just ignoring me and all my stories. But then I realize it won't ever happen and I promise I will doing well after this, I hope you so.
Love always,
Tara.

I feel infinite

Dear friend,

Me and Rama recently often call each other. I guess he is busy with his stuff at college. And I can understand it. I do understand it. All I can feel is, I am fine. So much better than before. And my heart doesn't hurt anymore. And I don't feel any pain that usually break my heart. I can keep it. And I am doing well. And my heart starts to feel nothing. I wonder whether it's good or bad, is that a good news or even a bad news? I don't know. I'm fine but I think it's not good.

Love always,
Tara

25 Jan 2013

Hari ke-22: I'm scared and afraid walking in the dark, let me catch the light

Dear my beloved father..
Hello father, how are you? Although I meet you everyday but I don't know your heart conditions. You just said that you are okay but I know you have big problems and I won't you think about everything too hard.. I'm sorry, I'm so sorry. I always made you sad, disappoint or anything. You know, that everything that I've done I do the best that I can. But sometimes I have no chance to catch the successful. But now, I realize, my whole life I'll do everything to make you and momma happy. I wanna make you smile and I wanna make you proud of me..

Love Dinar :)

20 Jan 2013

Hari ke-18: Lagi

Dear Bintang, aku iri lagi. Untuk kesekian kali. Pada sepasang burung yang terbang begitu indah. Mengepakkan sayap bersamaan. Berlarian diantara angin yang ingin memisahkan. Aku iri lagi. Untuk kesekian kali. Pada bulan yang setia mengiringi bumi. Menjadi satelitnya dan tidak ingin lebih. Aku iri lagi. Untuk kesekian kali. Pada dua sosok pemuda pemudi diujung sana. Duduk berdua sambil bercanda. Es krim-es krim yang mereka bawa sesekali diliriknya, tapi tidak pernah menurunkan niat mereka untuk mendengarkan celoteh satu sama lain. Senyum mereka berkata bahwa mereka jatuh cinta lagi, untuk kesekian kali, dan tidak pernah tidak terjadi. Aku iri lagi. Untuk kesekian kali. Aku ingin aku bisa mengerti. Aku ingin aku bisa menanti. Aku ingin aku bisa berbicara bahkan saat aku diam. Aku ingin aku selalu ada bahkan saat ketiadaan adalah pilihan utama. Aku ingin sesuatu yang pasti, bahkan saat ketidakpastian adalah jawaban segala tanya. Aku ingin dianggap ada bukan sekedar untuk melengkapi, bukan sekedar sebagai remah roti, bukan sekedar sebagai boneka yang dibuang saat kebosanan merajai. Aku ingin aku bahkan tidak punya jarum, paku, peniti, atau apapun yang membuat hati, jantung, dada, atau perasaan yang menusuk-nusuk tepat disini. Boleh?

Pandanganku memburam. "Begini ya caranya menangis?"
Bisikku.

19 Jan 2013

Hari ke-17: Sendirian Sekarang

Aku bergidik menahan dingin. Menghembuskan nafas yang bisa kuihat menguap didepan mataku. Menggesek-gesekkan tangan yang sudah terbalut sarung tangan tebal. Mendekap sendiri tubuh yang sudah terbalut jaket hingga membuatku menggembung sebulat bola salju yang digulung. Satu-satunya yang menemaniku adalah angin yang selalu berhasil menusuk sampai ke tulang.

Aku merasakannya ada disana. Berdiri di sampingku. Sambil memandang lurus ke depan. Sambil sesekali tersenyum, entah pada apa. Dia hanya memakai jaket tipis dan tidak memakai baju hangat. Apa dia tidak kedinginan, pikirku. Aku menghampirinya, ingin mendekap. Tapi saat ingin kudekap, bayangannya hilang dan berpindah ke sisi yang lainnya.

Aku tersenyum menahan rindu. Rasanya ada sepuluh ribu paku yang menancap tepat di jantungku. Memaksanya untuk tetap berdetak dengan segala perih dan darah yang setiap detik bertambah hebat. Tara sesekali hilang, membiarkanku menangis sendirian. Membiarkanku mencarinya dalam sebuah kenangan. Mungkin dia tau seharusnya aku tidak lagi mengharapkannya ada sekarang.

Dua bulan. Dia sudah benar-benar hilang. Hanya ada dia yang tersenyum sambil berkata, "Baik-baik ya. Jangan lupa makan" seperti biasanya dia mengingatkan. "Tara, kau sudah tenang ya, Sayang?", bisikku.

17 Jan 2013

Hari ke-16: 5 (Lima)

1
Aku diam mendengarkan suara hening diujung bumi sebelah sana. Dia membisu dan ikut-ikutan mendengarkan aku yang diam diujung bumi sebelah sini. Kami diam. Ingin diam karena tidak tau apa yang sedang kami diamkan.

2
Kali ini kamu sudah bisa bicara. Sekedar kata "iya", "tidak", dan "hmm" yang menggantung melalui udara. Aku yang tidak pandai bicara ini hanya membalasnya dengan memanggil namamu berulang kali dengan suara yang lirih. Sebentar lagi pecah. Dari sini aku tau. Semesta, dia sedang marah.

3
Sudah bukan lagi "iya", "tidak", dan "hmm" yang terus kau jejalkan di telingaku. Kini kita sudah mulai membuka tabir-tabir ego yang sedari tadi membungkus erat. Marah, kecewa, cemas, cemburu; hati, yang sedari tadi kau sembunyikan sekarang sudah ku genggam. "Maafin aku ya", katamu.

4
Kita resmi menangis berbarengan. Tangis yang aku tau tidak menyakitkan. Tangis tidak ingin kehilangan. Tangis karena kita merasa kita sama-sama bodoh untuk saling berbohong tentang perasaan. Kita ini berbeda tubuh, tetapi satu jiwa. Aku merasa apa yang kau rasa, begitu juga sebaliknya.

5
Memaafkan, berbagi rasa, kembali menjadi aku dan kamu yang selama ini bergumul menjadi kita. Mengobrol seharian. Bercanda sampai tidak ada bahan. Jenuh karena kamu bilang, hanya kamu yang berbicara terus-terusan. Tapi tidak pernah ingin mengakhiri pembicaraan. Itu kita; aku dan kamu yang selama ini berproses menjadi kita.

If there is no you;
my universe will never be the same.

16 Jan 2013

Hari ke-15: Mungkin

Mungkin sedang dihinggapi jenuh. Mungkin pengertian sedang tidak berada diantara aku dan kamu. Mungkin sedang tidak ingin duduk bersama. Mungkin sendirian lebih kau harapkan. Mungkin kau ingin ke utara dan aku ingin tinggal. Mungkin, sebenarnya kita ingin terus bergandengan. Mungkin, kita memang ada untuk satu sama lain, Mungkin hanya terlalu angkuh untuk terus berkata: aku butuh kamu. Disini. Sekarang. Sampai nanti. Tak terbatas waktu.

Diantara mungkin-mungkin yang ada dikepalaku, hanya ada satu yang mungkin pasti. Mungkin aku ingin kamu terus ada. Mungkin aku selalu butuh kamu; tertawa, menangis, marah, seperti biasanya. Mungkin aku terlalu takut kamu pergi. Mungkin aku tidak bisa berhenti. Mungkin, tidak; aku menyayangimu dengan segenap hatiku. Dan tidak ada mungkin lagi.

14 Jan 2013

Hari ke-14: Ayah

Sedang meneduh. Menghindari hujan. Sudah tidak sekuat dulu. Duduk diatas tumpukan sepatu, ia terkantuk-kantuk menahan kelelahan. Seiring riuh hujan dan anak-anak yang lalu lalang, kepalanya tertunduk-tunduk; matanya memejam. "Aku lelah", bisik matanya. Disela kantuk dan sadarnya, dia menjajakan dagangannya dengan suara lirih bercampur kelelahan, "Tahunya... Tahunya..."

Yang menguatkannya untuk terus berjalan;
hanyalah putra yang sangat dicintainya.
Tanpa berpikir bagaimana lelahnya dia.

Ayah, dengarkanlah....
Disela hujan ini, aku mengirim tetes kerinduan.
Untukmu yang selalu berpeluh.
Untukmu yang tidak pernah berkata lelah.
Untukmu yang selalu tersenyum.
Untukmu yang selalu berkata, "Semangatlah."
Untukmu yang tidak pernah mengeluh.
Untukmu, Ayah nomer satu didunia.
Aku rindu. Aku rindu. Aku rindu.

Hari ke-13: Menunggu

Rena berdiri disana. Bersama angin dan suara hempasan ombak. Bersama badai yang akan datang. Bersama kerinduan yang menyayat. Bersama kesepian yang memeluk erat. Bersama ribuan kenangan yang berusaha terbang menantang angin kencang. Di dermaga. Menikmati alam membisikinya untuk tinggal. Merenungi sebuah kepergian. Menanti sang pangeran yang tidak akan pulang. Yang sudah bertahun menjelajahi lautan. Yang tidak bisa lagi memberi kabar. Yang kata orang-orang sudah kembali pulang. Ke dalam pelukan lautan. Ke dalam naungan Tuhan.

Dia selalu menunggu.
Untuk bisa kembali bersatu.

12 Jan 2013

Hari ke-12: Home

Dia akan segera pergi. Kembali ke negaranya. Meninggalkanku sendiri disini. Bersama kenangan sebulan ini. Sudah lima tahun bersama. Dan tidak pernah jengah kurasa saat bersama. Hari-hari kami dihiasi rindu dan cinta yang selalu bergejolak tiap detiknya. Ya---kami selalu jatuh cinta satu sama lain; lagi, lagi, dan lagi. Mungkin karena jarak. Cinta kami terpisah benua. Tidak ada alasan untuk tidak rindu, untuk tidak jatuh cinta, untuk tidak berharap tiba-tiba ada jembatan berkontruksikan cinta dan percaya menghubungkanku dengan dia.

Apa arti jarak bagi kami? Apa arti jarak bagimu?
Apa arti cinta bagi kami? Apa arti cinta bagimu?
Apa arti rumah bagi kami? Apa arti rumah bagimu?
Bagi kami jarak adalah penguat hati untuk saling mencinta.
Mungkin bagimu jarak hanyalah ribuan kilometer jauhnya.
Bagi kami cinta adalah rasa yang tidak akan habis saat didera.
Mungkin bagimu cinta hanyalah rasa yang membuncah saat bersama.
Bagi kamu rumah ada bertemu, pelukan, tinggal, cinta, segalanya.
Mungkin bagimu rumah hanyalah tempat melepas lelah.

"Love...", sapaku.
"Mon amour♥", balasnya.
"I miss you", kataku.
"I miss you more", katanya.
"Lagi apa disana?", kataku.
"Lagi mau pulang. Ke pelukanmu", katanya.

Apa yang lebih membahagiakanku selain kamu bisa kembali;
ke pelukanku. Dan tinggal. Selalu ada disisiku.
I will always welcome you home.
Everytime you come home.
Take care there :')

11 Jan 2013

Hari ke-11: Terlambat

"Apakah kamu masih tidur dan tidak ingin ku ganggu? Apakah kamu lelah setelah petualanganmu semalam? Apakah kamu ingat apa janjimu, wahai Pangeran?", bisik sang Puteri; ditemani malam dan kesepian. "Aku tidak akan lagi meminta. Aku tidak akan lagi menanti. Dan aku tidak akan lagi berharap", tambahnya. Sekarang sang Puteri ditemani bulir-bulir air hangat yang memeluknya erat.

Sementara sang Pangeran masih terlelap. Beratapkan langit malam dengan ribuan lampion bernama bintang. Dia sungguh lelah, hingga melupakan janjinya. Dan tetap berpikir bahwa sang Puteri baik-baik saja, berpikir bahwa sang Puteri akan setia menunggunya.

"Pangeran. Kau terlambat", bisikku.

10 Jan 2013

Hari ke-10: I Know It

"I'm in love", katanya.

"Seberapa yakin?"

"Seyakin ini...", dia menarik tanganku. Meletakkannya diatas dadanya. Segera kurasakan letup-letup kencang; berdesir-desir ricau yang tidak dapat kujelaskan lewat kata-kata. "I'm in love with you", bisiknya.

"Okto...", kataku.

"Iya", katanya. Dia menatapku dengan tatapan sehangat perapian di musim dingin. "Aku mencintaimu, Rena. Aku tidak akan memaksakan diriku untuk tidak mengatakan kebenaran. Aku mencintaimu, dan akan selalu begitu. Aku tau, cinta bukan sekedar berdebar saat mataku tidak sengaja berpapasan dengan matamu. Aku tau, cinta bukan sekedar kata 'I love you'. Cinta adalah hati yang ingin selalu berkata, 'I live you'. Aku tau cinta tidak hanya sekedar menyusuri lorong kegelapan, bukan hanya sekedar teriakan dalam kehampaan. Cinta adalah bagaimana saling menguatkan, menjadi mata dan telinga satu sama lain saat kegelapan mendera, menjadi jawaban atas gaung-gaung yang menggema. Aku tau cinta tidak bisa dihindari, tidak bisa diminta; cinta hadir tanpa syarat dan tanpa paksa. Aku tau, saat dimana aku terlunta, saat dimana segala yang telah kutata hanyut bersama senja. Dan aku tau, saat langit akan menenggelamkan bumi, saat bulan sudah tidak setia menunggu matahari, I know that I'm in love with you, still."

9 Jan 2013

Hari ke-9: Mencintai Dalam Diam

"Salut deh sama kalian!!!"

"Salut kenapa?"

"Ya kalian berdua sahabatan udah berapa taun coba, dan ga pernah ada apa-apa kan?! Murni sahabat! Kalo aku sih mungkin udah suka kali Gin sama sahabat cowok yang super baik kaya Rama. Semacem ga mau nyia-nyiain oase di gurun gitu, hahaha."

"Oh, itu", aku cuma tersenyum.

Rena adalah orang keseribu yang selalu memuji kita. Memuji aku, mungkin. Atau sebenarnya iri ingin ada diposisiku. Rama adalah sahabatku semenjak SMA. Dan aku bohong kalau aku tidak punya rasa yang lebih untuknya. Iya. Aku menyimpannya serapat udara. Aku menyimpannya. Apa yang orang namakan cinta.

Aku mencintaimu dalam diam. Tidak perlu berbalas. Tidak perlu harus bilang.
Aku mencintaimu dalam diam. Kalau suatu saat kamu paham, maka aku masih disana.
Tidak akan berubah. Sesakit apapun. Aku terus bertahan.
Aku mencintaimu dalam diam. Memendam.
Aku mencintaimu dalam diam. Tidak cukup berani mengungkapkan.
Aku mencintaimu dalam diam. Tidak berharap kau memandang.
Aku bahkan cukup bisa mencintai punggungmu saat kau tersenyum disana tanpa aku.
Aku mencintaimu dalam diam. Bersama bayangan yang tidak dapat kukejar.
Aku mencintaimu dalam diam. Sediam alam. Yang tidak akan pernah meminta.
Aku mencintaimu dalam diam. Dalam tetesan-tetesan kerinduan.
Dalam rapalan-rapalan doa yang selalu kukirimkan.
Dalam ribuan tawa yang selalu kau lontarkan.
Dalam setiap detik mata kita bertatapan.
Dalam setiap rongga dada yang mengembang.

Aku hanya ingin diam. Mencintaimu dalam kesunyian...

8 Jan 2013

Hari ke-8: Lagi-lagi Tentang Rindu

Aku harap aku bisa menghentikan perasaanku sendiri. Atau, aku harap aku bisa menghentikan waktu, berputar balik. Melihatmu lebih awal, lebih awal dibandingkan yang lainnya. Dan menjadi satu-satunya orang yang kau pikirkan setelah Tuhan. Aku percaya keajaiban, tapi apakah keajaiban yang kuharapkan akan tiba-tiba berpihak padaku?

Aku masih duduk meringkuk melihat langit yang padam. Melihat jajaran bintang yang bertebaran tak terhingga. Selalu kulihat satu bintang yang paling terang, bintang keberuntungan. My one beautiful star, dimana kamu sekarang? Aku berbisik. Apa kau masih tidak bisa tidur jika tidak dengan piyama kelincimu? Apakah kau masih menganggap dirimu adalah Christopher Robin dan menyukai Winnie The Pooh? Apakah sekarang kau masih terjaga? Apakah masih ada aku disela hatimu? Apakah kau masih merasakan getaran-getaran rindu yang kukurimkan setiap malam ke hatimu?

Aku tertawa sendirian. Mataku melahirkan tetes-tetes hangat yang jatuh begitu saja tanpa bisa dibendung. Kusempatkan lagi melihat rumahmu, jendelamu di seberang. Tetap gelap, tetap tak berpenghuni. Aku rindu melihatmu sebelum tidur, tersenyum dan melambai kecil. Melihatmu memainkan lampu kamarmu sebagai tanda kau tidak bisa tidur.

Aku terus menunggu dibalik jendela. Berharap kau mendekati jendelamu dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, kemudian menangkapku walaupun hanya di ujung ekor matamu. Tapi jendela itu hanya terbuka tanpa ada kau yang menghiasi. Sampai malam menjelang, jendela itu lebih mirip lukisan tak bernyawa yang belum benar-benar hidup tanpa ada engkau disana.

Selamat memejam, selamat bertualang di negeri dimana kau belum bisa kutemukan. Selamat bermimpi, semoga kita akan bertemu lagi. Selamat untukku yang merindu, doakan tidak akan berujung semu.

6 Jan 2013

Hari ke-6: Ibuk

Ada semburat sedih menggantung disana. Diantara horison biru bola matanya yang gemerlapan percik-percik cinta. Kamu tidak akan pernah tau bagaimana dahsyatnya rindu bisa sangat membuat dua bola cakrawala itu kelabu. Bak tertimbun abu.

Ada sendu tidak ingin diacuhkan disana. Diantara tarian indah jemari lentiknya yang menari meliuki puluhan nada. Bermelodikan ketegaran yang ingin dimengerti tanpa harus berucap: aku merindui.

Ada berton-ton cinta yang siap menenggelamkanmu dijurang paling dalam hatinya, andai kau cukup kuat mengangkatnya sekarang. Dan andai kau cukup tau untuk sekedar paham. Ada yang mencinta, tapi kau buta.

Ada yang setia duduk disana. Menunggumu pulang, atau hanya sekedar mendengar kau berdeham. Lalu dia akan terlelap berhiaskan senyuman. Membawamu ke dalam mimpi seindah cerita impian. Dan terlelap. Sangat lelap. Tanpa harus bertanya dimana, dan kapan terjaga.

Iya buk. Dinar juga kangen.