Showing posts with label subhanallah. Show all posts
Showing posts with label subhanallah. Show all posts

19 Dec 2010

Laa fatan illa ‘Aliyyan!

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

"Cinta tak pernah meminta untuk menanti.Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.Ia adalah keberanian, atau pengorbanan."

Bila cinta, khitbahlah...

Bismillahirrahmanirrahim..

“Lihat wanita itu bang?“
sahabatku menunjuk seorang wanita berjilbab,sekilas ku lihat memang wanita anggun.

“Aku mencintainya bang, tapi setiap kali aku mendekatinya, dia menjauhiku. Entah apa maksudnya. Dia tidak pernah membalas SMS ku bahkan aku pernah nekat mengiriminya surat, namun nasibnya sama. Tak berbalas “ sahabatku yang bernama Tio pun tertunduk.

“ Kau sudah pernah melamarnya ?? “ aku bertanya.

“ Boro-boro bang,aku ini masih kuliah. Abang juga kan masih kuliah,dia juga kuliah. Mau di kasih makan apa,batu?? “ aku melihatnya tertawa. Aku tersenyum melihatnya.

“ Kalo aku jadi kamu,udah aku lamar enggak pake lama deh “ aku menatapnya.

“ Kalo abang udah mikir mau ngasih makan batu,silahkan aja “ dia pun melanjutkan tawanya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Tak lama setelah perbincangan itu aku mengetahui namanya. Lathifah. Nama yang bagus,itu pun aku ketahui dari Tio yang keceplosan menyebut namanya. Aku hanya sekilas melihatnya lagi. Setelah itu hanya mengetahui Lathifah dari Tio.

Lama aku mengenal Lathifah dari Tio,begitu seringnya Tio menceritakan Lathifah padaku. Aku hanya sebagai pendengar setia setiap curhatan nya.

“ Gimana Yo,lama aku tak mendengarmu menyebut namanya,katanya cinta “ kataku memulai pembicaraan yang telah lama tidak ku ketahui kabarnya.

“ Enggak tahu deh bang,capek aku mikirin dia. Enggak ada kepastian “ timpalnya.

“ Dia itu seorang muslimah Yo,aku yakin dia enggak pernah kepikiran pacaran apalagi mau pacaran. Kepastian dia Cuma lamaran Yo,kalo kamu berani melamarnya. Aku yakin kamu akan mendapatkan kepastian. Kalo kamu masih enggak mau juga,buat aku saja yaa “ aku terkekeh melihat raut wajahnya yang langsung berubah jadi cemberut.

“ Aahh..sudahlah bang,kalo jodoh juga dia enggak akan lari “

“ Kata siapa enggak bakalan lari ?? Yang namanya jodoh itu harus di kukuhkan dengan pernikahan,kalo enggak yaa sampai kapanpun jodoh akan lari. Dari mana kamu tahu kalo dia jodohmu kalo kamu enggak mau nyoba buat mengukuhkannya dengan pernikahan”

“ Cerewet amat si bang,si amat aja enggak cerewet kayak abang “ aku tertawa mendengar ejekannya.

Ada suara ketukan di pintu kamar ku. Aku bergegas berdiri dari depan meja tempatku berjuang menyelesaikan tugas-tugasku.

“ Kenapa kamu Yo ?? “ aku mengerenyitkan dahi,melihat muka Tio lesu. Seperti habis memikul sesuatu yang berat.

“ Lathifah akan menikah bulan depan bang,aku di beri tahu sahabatnya “ Tio melangkahkan kakinya menuju tempat tidurku,lalu telentang dan menutup kepalanya dengan bantal.

Aku membuka bantalnya,melihat Tio menangis. Tak ada salahnya seorang laki-laki menangis,toh dia juga manusia biasa yang mempunya fitrah dengan sebuah perasaan yang membebaninya.

“ Terus kenapa kamu menangis “

“ Aku kecewa bang,lama sudah aku ngejar-ngejar dia. Masa ada cowok baru dateng minggu kemaren ke rumahnya,udah dia terima aja jadi calon suaminya “ Dia kembali menangis.

“ Emang calon suaminya salah ya kalo mau ngelamar Lathif ??”

“ Ya enggak Bang,Cuma aku duluan yang suka sam Lathif,dia kan datangnya belakangan “ aku tersenyum mendengarkan pembelaannya.

“ Hey sob,Siapa yang suka duluan atau yang suka belakangan itu enggak di perhitungkan sob. Kalo siapa yang duluan ngelamar,itu baru perlu di pertimbangkan. Ini dari dulu di suruh ngelamar,enggak berani,sekarang udah di lamar orang lain,kamu malah nangis-nangis. Emangnya dia di suruh nugguin ketidak pastianmu apa “ Kataku panjang lebar.

“ Bukan Cuma itu bang,dia ternyata juga suka sama aku. Itu kata sahabatnya si Lathif,Cuma aku nya ngajak pacaran mulu,makanya dia enggak mau nerima aku. Aku baru tahu kalo dia sedang nunggu aku,Cuma karna dia seorang muslimah dia benar-benar menjaga kehormatannya...aaahhhh...aku nyesel bang “ dia kembali menutupkan wajahnya pada bantal.

“ Nyesel selalu datang terlambat ya,kalo datangnya duluan namanya bukan penyesalan atuh,tapi perencanaan buat nyesel nantinya “ Aku mencoba mencairkan suasana. Tapi tetap saja tangisnya belum mereda.

“ Makanya,kalo cinta jangan Cuma di katakan,tapi di khitbah biar bisa jadi istri. Kalo udah di ambil orang,baru kerasa efeknya “

Lemparan bantal ke arahku menandakan dia sedang kecewa berat. Namun pelajaran berarti saat ini untuk menuju sebuah kedewasaannya dalam berfikir.

Situs BMB: www.pelangimentari.com

*S S*

16 Nov 2010

Nasihat Ali bin Abi Thalib

  1. Dosa terbesar adalah Ketakutan.
  2. Rekreasi terbaik adalah Bekerja.
  3. Musibah terbesar adalah Keputusasaan.
  4. Keberanian terbesar adalah Kesabaran.
  5. Guru terbaik adalah Pengalaman.
  6. Misteri terbesar adalah Kematian.
  7. Kehormatan terbesar adalah Kesetiaan.
  8. Karunia terbesar adalah Anak yang Sholeh.
  9. Sumbangan terbesar adalah Partisipasi.
  10. Modal terbesar adalah Kemandirian.

20 Jul 2010

Isyhadu bi anna muslimun

Saya kurang begitu ingat kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Tapi saya ingat satu hal. Waktu itu penerimaan raport kelas satu SMA. Saya, untuk kedua kalinya bertindak sebagai wali murid bagi adik perempuan saya. Anak terakhir dari sepuluh bersaudara.

Sebenarnya tidak ada hal yang terlalu istimewa dalam acara pengambilan raport. Saya juga tidak terlalu kaget dengan prestasinya yang masuk tiga besar (dia sudah melakukannya sejak kelas satu SD). Memang saat semester satu, dia cuma masuk sepuluh besar. Kalau tidak salah ranking delapan (prestasi yang kemudian membuatnya sangat shock). Dan ini kemudian membuatnya belajar lebih giat lagi. Sebuah akibat yang positif saya pikir.

Saya ucapkan selamat atas prestasinya. Diciumnya tanganku. Lalu kucium keningnya yang mulai ditumbuhi bintik-bintik tanda pubertas. Aku ingin mengajaknya makan sesuatu yang spesial. Mungkin ke rumah makan atau restoran. Tanggal muda begini gajiku masih cukup untuk sekedar membelikannya makanan dengan harga yang tak biasanya. Tapi dia menolak. "Lilis lagi puasa mas, " tolaknya.

"Subhanallah!" batinku. Dia begitu bersahaja.

"Oh, maaf deh kalo gitu. Ya udah. Kamu pengin dibelikan apa? Anggap ini hadiah dari Mas untuk prestasi kamu, " kataku kemudian.
Sejenak dia terdiam.

"Kalo aku bilang, Mas marah nggak?" tanyanya ragu.
Aku jadi penasaran. Apa yang ingin dimintanya. Selama ini, dia memang tak pernah meminta. Bahkan ketika kutawari membeli ini-itu, dia selalu menolak. Baru setelah kubelikan barang tertentu, dia tak kuasa menolaknya. Alasan yang belakangan kuketahui bahwa dia tak ingin merepotkan orang lain dan tak ingin mengecewakan pemberinya.
Pernah suatu ketika aku dapat rizki lumayan banyak dari komisi iklan yang tanpa sengaja aku peroleh. Aku mengajaknya jalan-jalan ke supermarket. Aku ingin membelikannya pakaian atau apapun yang dia inginkan. Tapi kami ternyata pulang dengan tangan hampa. Setiap ditanya kamu pengin beli apa? Dia selalu bilang nggak pengin apa-apa. Sebenarnya agak keki juga waktu itu. Wong disuruh milih beli sesuatu kok nggak pernah mau. Coba kalau orang lain, mungkin tak akan disia-siakan.

"Memangnya kamu mau bilang apa? Selama ini, apa kamu pernah mendapati Mas marah sama kamu. Nggak kan? Bilang aja. Insya Allah kalau Mas bisa mengabulkannya, pasti akan Mas usahakan, " kataku penasaran.

Dia tertunduk sesaat. Seperti menimbang-nimbang. Apakah mau meneruskan permintaannya atau membatalkannya. Tapi sesaat kemudian aku tahu, dia memilih melanjutkannya.
"Mas, Lilis pengin berjilbab pas kelas dua!" ujarnya mantap. Meski lirih, tapi aku tahu dia tegas mengucapkannya.
"Apa?" Sebenarnya aku mendengar permintaanya dengan sangat jelas. Sejelas suara petir yang meledak di siang bolong. Pertanyaanku dengan 'Apa' mungkin hanya reaksi keterkejutan.

"Lilis pengin berjilbab pas kelas dua besok, " ulangnya.
Aku tak bisa berkata-kata beberapa saat lamanya. Tapi sama sekali bukan karena aku tak menyetujuinya. Justru sebaliknya. Aku tentu sangat mendukungnya. Berjilbab, bagi seorang muslimah adalah wajib hukumnya. Dan aku tahu itu. Aku hanya tak percaya. Di usianya yang masih sangat muda (15 tahun) dia dengan mantap berniat berhijrah ke jalan Allah. Hatiku basah. Mulutku serasa terkunci. Dua kelopak mataku seperti berubah menjadi mata air. Dari keempat ujungnya, meluber air yang tak kuketahui asalnya.

"Alhamdulillah..." ucapku tanpa keluar suara. Kemudian, kukecup keningnya sekali lagi. Dia kelihatan bingung karena aku belum menjawab pertanyaanya.

"Mas belum jawab pertanyaan Lilis, " tuntutnya.

Aku menghela nafas panjang. Menghapus air mataku.
"Apa kamu sudah memikirkannya masak-masak?" tanyaku kemudian. Aku sebenarnya agak terkejut dengan kata-kata yang mendadak muncul dari mulutku barusan. Kenapa aku menanyakannya? Toh dia memang sudah yakin benar untuk melakukannya. Sungguh ini bukan kata-kata yang ingin kuucapkan. Aku, sebaliknya ingin berjingkat dan bersorak sambil mengucapkan syukur kepada Allah atas hidayah yang diberikan-Nya pada adikku. Tapi demi berpikir bahwa usianya baru 15 tahun, aku kemudian membenarkan pertanyaanku yang barusan kuucapkan. Ya. Kita tahu sendiri. Kayak apa pergaulan anak-anak seumurannya yang sangat dipengaruhi sinetron di TV. Dari gaya ngomong sampai gaya berpakaian. Semuanya jarang sekali yang Islami. Karena itu aku menanyakan komitmennya yang ingin hijrah. Jangan-jangan dia hanya ikut-ikutan teman-temannya yang berjilbab modis. Berjilbab, tapi rambutnya nyembul di dahi atau keluar di ujung kerudung. Atau berjilbab, tapi seluruh lekuk tubuhnya bertonjolan. Atau berjilbab, tapi begitu jongkok, celana dalamnya kelihatan. Demi Allah, aku tidak ingin itu terjadi pada saudara kandungku. Aku tidak ingin jilbabnya justru membawanya ke kobaran api neraka.

Bagiku, berjilbab bukan sekedar menutupi tubuh dan rambut. Tapi lebih penting lagi adalah menutupi aurat dan hati dari kemaksiatan. Menutupi kehormatan sekaligus menjaganya ke derajat yang seharusnya. Dan membuat seorang wanita menjadi wanita yang sesungguhnya. Selain tentu saja mengamalkan perintah agama.

Saat itu, jujur saja aku juga memikirkan masalah biaya. Ketika aku memperbolehkannya mengenakan hijab, maka sebagai konsekuensinya, aku juga mesti mengganti seluruh pakaiannya dengan pakaian-pakaian yang sesuai. Padahal gajiku selalu habis untuk mencicil motor, membayar SPP-nya, membayar SPP kakaknya yang semester dua dan buat makan serta bayar kontrakanku sendiri.

"Sudah mas. Lilis sudah sholat istikharoh. dan niat itu semakin kuat. Semakin lama Lilis keluar dengan pakaian begini, akan semakin banyak dosa yang Lilis buat. Lilis tidak mau masuk neraka. Lagian memakai hijab kan sudah wajib hukumnya bagi seorang perempuan, " jelasnya.

Aku kembali menghitung gajiku dalam kepala. Tidak cukup. Tapi Bismillahhirrahmanirrohiim.

"Mas insya Allah pasti mengizinkan. Bahkan sangat mendukung keputusan kamu. Cuma satu hal yang harus kamu ingat. Jangan berjilbab karena ikut-ikutan. Mas ingin kamu berjilbab karena memang itu kewajiban. Kewajiban untuk menjaga kehormatan. Menjaga diri dari fitnah dan kemaksiatan. Mas akan sangat marah kalau suatu hari ternyata kamu melepas jilbabmu. Kalau sampai terbersit keinginan seperti itu meski setitik, mending kamu tidak usah melakukannya sejak sekarang. Jilbabi dulu hatimu. Baru kemudian tubuhmu!" panjang lebar kuutarakan isi hatiku.

"Mas, Isyhadu bi anna muslimun. Bersaksilah, bahwa Lilis adalah seorang muslim. Lilis ingin jadi muslim sejati, " katanya. Kepalanya tertunduk. Ketika menengadah, ada genangan air bening di kedua matanya. Aku memeluknya. Seakan tak ingin melepasnya. Aku tidak ingin kehilangan dia.

Ya Allah. Terima kasih atas nikmat dan karunia yang Engkau berikan padaku. Terima Kasih telah memberiku seoran bidadari sekaligus malaikat yang selalu menjadi pemantik api semangatku untuk terus bekerja dan mengingat-Mu.

Ya Allah. Kuatkan niat kami untuk selalu berjalan di jalan-Mu ya Allah. Jalan yang engkau ridloi. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat. Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Amiin

Sumber: http://www.eramuslim.com/oase-iman/quot-mas-isyhadu-bi-anna-muslimun-quot.htm

9 Jul 2010

SINAR CAHAYA AYAT KURSI

Dlm sebuah hadis, ada menyebut perihal seekor syaitan yang duduk di atas
pintu rumah. Tugasnya ialah untuk menanam keraguan di hati suami
terhadap kesetiaan isteri di rumah dan keraguan di hati isteri terhadap
kejujuran suami di luar rumah. Sebab itulah Rasulullah tidak akan masuk rumah

sehingga Baginda mendengar jawaban salam dari isterinya. Di saat itu syaitan akan lari bersama-sama dengan salam itu.

Hikmat Ayat Al-Kursi mengikut Hadis-hadis:

1) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi bila berbaring di tempat tidurnya,
Allah SWT mewakilkan dua orang Malaikat memeliharanya hingga subuh..

2) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir setiap sembahyang Fardhu,
dia akan berada dalam lindungan Allah SWT hingga sembahyang yang lain.

3) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap sembahyang, dia
akan masuk syurga dan barang siapa membacanya ketika hendak tidur,

Allah SWT akan memelihara rumahnya dan rumah-rumah disekitarnya.

4) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir tiap-tiap shalat fardhu,
Allah SWT menganugerahkan dia setiap hati orang yang bersyukur,

setiap perbuatan orang yang benar, pahala nabi2, serta Allah melimpahkan
rahmat padanya.

5) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi sebelum keluar rumahnya, maka
Allah SWT mengutuskan 70,000 Malaikat kepadanya - mereka semua

memohon keampunan dan mendoakan baginya.

6) Barang siapa membaca ayat Al-Kursi di akhir sembahyang, Allah SWT
akan mengendalikan pengambilan rohnya dan dia adalah seperti orang
yang berperang bersama Nabi Allah sehingga mati syahid.

7) Barang siapa yang membaca ayat Al-Kursi ketika dalam kesempitan
niscaya Allah SWT berkenan memberi pertolongan kepadanya.

Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah S.A.W. bersabda,

"Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..."

"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk Dunia-mu, utamakan SOLAT dan ZAKAT
untuk Akhirat-mu"

Subhanallah. ..

Source: http://www.millatfacebook.com/muhammad_solihin/blog/sinar-cahaya-ayat-kursi/

23 Jun 2010

Kisah Ali dan Fatimah


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.

Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.

Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.

Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan membelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?

Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,

“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

yang salah dari pacaran itu bukan perasaannya, melainkan jalan yang kita pilih, untuk mempertanggungjawabkan perasaan tsb lah, yang tidak bijak...
:) semoga istiqomah, ini memang tidak mudah. :)

Baarakallaahufiikum....

Source : Jalan cinta para pejuang Salim . A.fillah
Sirah Shahabat & Shahabiyah

7 Jun 2010

Kisah - Kisah Keajaiban Perang di Gaza, Palestina

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.
Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel sangat kesulitan.
Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya. Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.
Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.
Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”. Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Berikut ini adalah rangkuman kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.

Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza
Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu. Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel. Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam. Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan. Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawaban satu-satunya yang ia miliki.

Suara Tak Bersumber
Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjid Izzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TV channel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan). Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut. “Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi. Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak. Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara “Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali. “Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib. Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situs alraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan,
“Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.
“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya.

kisah-kisah lebih lanjut bisa dibaca disini..
http://apakabardunia.com/post/unik_aneh/kisah-kisah-keajaiban-perang-di-gaza-palestina